mulailah mencintai negri kita dengan karya sastranya ^_^
aku anak indonesia,
cinta negeri dan menghargai
karya sastra indonesia...
HIDUP INDONESIA!!!!!
cinta negeri dan menghargai
karya sastra indonesia...
HIDUP INDONESIA!!!!!
Rabu, 21 Maret 2012
Foto punya cerita..
Cewe berambut ikal dengan gaya so cool nya bersaing dengan cewe berkerudung hitam yang mengeluarkan jurus cemberut mematikan lawan.
Tanpa diduga, kedua wanita itu adalah......
dear my bolg, .
sorry malem ketiduran jd gk sempet curhat2tan...
Pernah denger yg namanya krisis kepercayaan diri atau krisis smangat. Kali nie aq ngerasain sendiri, betapa sulitnya bangkit dari yang namanya krisis itu. Sumpah, 'males' itu emng musuh terberat semua orang. Timeschedule, alarm, atau bahkan catatan kecil yang selalu aq buat setiap hari hampir gak mempan dan gak bisa ngelawan si 'males'. Tapi siapa lagi kalo bukan dari hati kita sendiri, aq yakin bisa maka harus berani bangkit, nyoba, dan mulai. Move on win!!!
Nyemangatin diri sendiri itu keliatannya mudah, tapi sebenarnya lebih sulit dari dengerin curhata temen.
Keluar dari persoalan krisis semangat itu. Ada target di bulan April yang harus aku raih. Pertama juara lomba baca puisi nasional piala rendra. Kedua lolos LKTI mapres atau BESWAN. Aminnnnnnnnn Ya Robb...
Kita liat perjuanganku yang tinggal seminggu lagi,,
Pernah denger yg namanya krisis kepercayaan diri atau krisis smangat. Kali nie aq ngerasain sendiri, betapa sulitnya bangkit dari yang namanya krisis itu. Sumpah, 'males' itu emng musuh terberat semua orang. Timeschedule, alarm, atau bahkan catatan kecil yang selalu aq buat setiap hari hampir gak mempan dan gak bisa ngelawan si 'males'. Tapi siapa lagi kalo bukan dari hati kita sendiri, aq yakin bisa maka harus berani bangkit, nyoba, dan mulai. Move on win!!!
Nyemangatin diri sendiri itu keliatannya mudah, tapi sebenarnya lebih sulit dari dengerin curhata temen.
Keluar dari persoalan krisis semangat itu. Ada target di bulan April yang harus aku raih. Pertama juara lomba baca puisi nasional piala rendra. Kedua lolos LKTI mapres atau BESWAN. Aminnnnnnnnn Ya Robb...
Kita liat perjuanganku yang tinggal seminggu lagi,,
Selasa, 20 Maret 2012
dear my bolg, .(star from this night)
Sehari ini 24 jam sama dengan hari hari sebelumnya, dan jadwal privat hampir kulupakan karena konsentrasi pada tugas yang kuanggap begitu menyita waktu. ingin rasanya meminta maaf pada anak-anak kelas 5 sd itu yang seharus belajar bahasa indonesia. Tapi mungkin ini yang namanya skala prioritas yang diutamakan.
Masih dengan sisa waktu dua minggu, apa aku bisa y? sudah berpuluh puluh kali pertanyaan itu terlontar dipikiran, namun belum juga memberikan suntikan semangat untuk menggerakkan tangan membantu pena menggoreskan tintanya untuk serangkaian kata yang nantinya menggunung menjadi karya. Sulit memang kalau tidak dicoba, dan tidak akan selesai kalau tidak dimulai. Maka, kuputuskan mulai malam ini dan seterusnya waktu malam adalah waktunya menyusun dan menulis. Yang harus selesei sebelum bulan ini habis adalah, karya ilmiah, cerita pendek dan puisi. smangaaaaaaat!!!!! itu rasanya yang bisa diberikan hati untuk menyemangati. Aku yakin bisa, kan negeri 5 menara punya slogan 'Man Jadda Wa Jadda', aku juga punya 'Bisa Bisa Bisa, Bismillah!!!!'
Malam ini masih panjang ternyata, aku tulis puisa ah untuk siapa pun yang mau mendengarkan dan tertarik membacanya...
Sita Menyita
Kerap langkah tersendat, dalam ruang kecil tak berangin
mengambil dan terambil hanyalah soal hak,
tapi baginya menyita hati itu luar biasa, sudah terasakan
bukan dari pemilik langit tapi manusia biasa bersuku sunda yang berani melakukan sita hingga pemiliknya setia dalam senyuman dan bertahan meski tertimpa murka.
Masih dengan sisa waktu dua minggu, apa aku bisa y? sudah berpuluh puluh kali pertanyaan itu terlontar dipikiran, namun belum juga memberikan suntikan semangat untuk menggerakkan tangan membantu pena menggoreskan tintanya untuk serangkaian kata yang nantinya menggunung menjadi karya. Sulit memang kalau tidak dicoba, dan tidak akan selesai kalau tidak dimulai. Maka, kuputuskan mulai malam ini dan seterusnya waktu malam adalah waktunya menyusun dan menulis. Yang harus selesei sebelum bulan ini habis adalah, karya ilmiah, cerita pendek dan puisi. smangaaaaaaat!!!!! itu rasanya yang bisa diberikan hati untuk menyemangati. Aku yakin bisa, kan negeri 5 menara punya slogan 'Man Jadda Wa Jadda', aku juga punya 'Bisa Bisa Bisa, Bismillah!!!!'
Malam ini masih panjang ternyata, aku tulis puisa ah untuk siapa pun yang mau mendengarkan dan tertarik membacanya...
Sita Menyita
Kerap langkah tersendat, dalam ruang kecil tak berangin
mengambil dan terambil hanyalah soal hak,
tapi baginya menyita hati itu luar biasa, sudah terasakan
bukan dari pemilik langit tapi manusia biasa bersuku sunda yang berani melakukan sita hingga pemiliknya setia dalam senyuman dan bertahan meski tertimpa murka.
Selasa, 13 Maret 2012
sedikit linangan di selasa malam,.
Perasaan dan asa masih saling mnegejar,
tapi kenyataan memberikan tanda kelam, kesedihan, dan kesakitan terpendam.
"benar saja, mata yang sudah membendung itu akhirnya menurunkannya perlahan hingga melapisi kulit pipinya", hati mulai tak bisa menata kata
logika dan logika saling berargumen mengatasi,
hingga teguran denting jam menyadarkannya untuk segera menyeka mereka.
Untuk saat ini cukup dan tidak akan berulang, hanya di kalbu belum tersampaikan
maka pada kata dimohon untuk membantunya.
tapi kenyataan memberikan tanda kelam, kesedihan, dan kesakitan terpendam.
"benar saja, mata yang sudah membendung itu akhirnya menurunkannya perlahan hingga melapisi kulit pipinya", hati mulai tak bisa menata kata
logika dan logika saling berargumen mengatasi,
hingga teguran denting jam menyadarkannya untuk segera menyeka mereka.
Untuk saat ini cukup dan tidak akan berulang, hanya di kalbu belum tersampaikan
maka pada kata dimohon untuk membantunya.
Sedang diserang virus galau..
Sebagai wanita, sudah sewajarnya diperhatikan begitu pun seperti kita sebagai wanita memperhatikan pria yang menjadi pasangannya. tapi dalam permasalahan seperti saat ini, rasanya sulit untuk menghindar dari 'galau'.
Pria boleh menuntut atau menjaka bertemu dengan wanitanya, tapi jika lagi lagi keslahan yang terus diulang pria itu akhirnya membuat wanita harus mengatakan kekesalannya. coba saja bayangkan jika kalian diposisi wanita itu. suatu ketika prianya mengajak bertemu, wanita menunggu dan mengirimkan pesan menanyakan mau bertemu dimana dan sedang dimana. tapi ternyata pesannya hingga dua jam menunggu tidak dibalas juga. hingga diam dalam kelelahan, tibatiba ada pesan dari si pria di ponsel wanita itu yang mengatakan dirinya sedang menuju ke tempat wanita itu. sungguh seperti disepelkan dan tidak dianggap ada. kenapa pertanyaan dari wanita itu tidak di balas tapi tiba tiba dia mau datang ke tempat wanita itu seakan tidak ada dosa sedikit pun. apakah itu yang dinamakan saling menghargai kepada pasangannya.
intinya, jika ingin dihargai maka hargai dulu orang lain. jangan kedepankan ego sendiri.
Pria boleh menuntut atau menjaka bertemu dengan wanitanya, tapi jika lagi lagi keslahan yang terus diulang pria itu akhirnya membuat wanita harus mengatakan kekesalannya. coba saja bayangkan jika kalian diposisi wanita itu. suatu ketika prianya mengajak bertemu, wanita menunggu dan mengirimkan pesan menanyakan mau bertemu dimana dan sedang dimana. tapi ternyata pesannya hingga dua jam menunggu tidak dibalas juga. hingga diam dalam kelelahan, tibatiba ada pesan dari si pria di ponsel wanita itu yang mengatakan dirinya sedang menuju ke tempat wanita itu. sungguh seperti disepelkan dan tidak dianggap ada. kenapa pertanyaan dari wanita itu tidak di balas tapi tiba tiba dia mau datang ke tempat wanita itu seakan tidak ada dosa sedikit pun. apakah itu yang dinamakan saling menghargai kepada pasangannya.
intinya, jika ingin dihargai maka hargai dulu orang lain. jangan kedepankan ego sendiri.
Minggu, 06 November 2011
CERPEN: Dormitori
DORMITORI
Oleh Winni Siti Alawiah
“Tolong….tolong….tolong”, teriak Melda dari dalam gudang bekas penyimpanan tabung gas.
Sudah dua jam berlalu dan tak satu pun orang yang datang ke gudang itu. Mungkin karena letak gudang yang jauh dari rumah warga. Terkunci dalam ruangan yang begitu besar, pengap, dan gelap membuat jantung gadis berusia 17 tahun itu berdetak kencang. Matanya yang selalu berjaga kesetiap sudut di ruangan itu. Pengawasan yang dibuatnya memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya.
Handphonenya mati tak bisa dipakai untuk mengubungi siapapun yang bisa menolongnya keluar dari tempat menyeramkan itu.
“ya Tuhan, tolong aku. Aku ingin pulang”, nada suaranya mulai paraw. Entah siapa yang menyeretnya kedalam mobil jip berwarna biru tua ketika ia keluar dari gerbang sekolah.
Keadaan berbeda, di sebuah ruangan berarsitektur eropa modern, tergolek lemas di atas sofa seorang pria berkumis tebal.
“dimana dia sekarang, aku tidak akan makan bahkan minum obat tanpanya di sampingku!”, teriak pria berkumis itu pada pria berjas coklat yang berdiri disampingnya.
“kami sudah menghubungi semua kawan-kawannya di sekolahnya tetapi tidak ada yang mengetahui kemana Nona Muda pergi”, jelas pria berjas itu dengan hati-hati.
“sesulit itukah kalian mencari gadis kecilku!. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, cepat pergi dan cari anakku!. Jangan kembali sebelum kau bertemu dengannya!”, perintahnya tegas.
Segera dengan cepat pria berjas itu meninggalkan ruangan besar berwarna emas. Dengan langkah cepat pria itu menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan mobil.
“David!!!,”
“kau memanggilku?”, langkahnya terhenti. David membalikan badan ke arah suara yang memanggilnya.
“ia. Bagaimana keadaan Melda dan Robby?”, tanya wanita tinggi berkulit putih itu.
“entahlah Nyonya. Seperti biasa Tuan tidak pernah mengharapkan keadaan buruk menimpa Nona Muda”
“Keras kepala!!!”
Segera wanita itu melangkahkan kakinya cepat namun tetap anggun. Wanita itu tante Reina yang setia membantu Robby ayahnya dalam membesarkan Melda semenjak ibunya meninggalkannya karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.
“hei, pria batu!!! Lagi-lagi kau ingin menyiksa dirimu sendiri!”
“hah, sudahlah Rei. Aku tahu apa yang aku lakukan. Terimakasih atas perhatianmu. Tapi tolong mengertilah”
“benar-benar kepala batu!. Kau pernah melakukan ini berulang kali setiap anakmu pergi tanpa kabar. Padahal anak itu hanya pergi dengan temannya. Kau akan mati jika setiap Melda pergi terlalu lama dan kau memutuskan tidak meminum obatmu!.”, jelas Reina kesal.
Reina duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan tempat Robby berbaring lemas. Dengan setelan baju tidur berwarna merah ati Robby terlihat begitu mengkhawatirkan.
“lihat dirimu. Sebentar lagi kau akan mati dengan keputusan bodohmu itu!!!”
“tolonglah Rei, jangan paksa aku. Kali ini firasatku berbeda. Melda berjanji akan pergi ke pantai denganku sepulang sekolah. Tapi lihat dia tidak pulang. Sudah lima jam Rei, lima jam!!!”, Robby terengah-engah.
“pikiranmu masih kolot. Ini zaman modern Robby!!! Anakmu pergi dan pulang dengan kawalan, apa harus ia pergi bermain dengan teman-temannya dan membawa orang-orang berjas biru yang selalu berjaga di sekelilingnya.”
“baiklah Rei, aku mengalah. Aku harus bagaimana sekarang?”, tanya Robby yang berusaha mengangkat tubuhnya yang lemah dari sofa.
“ minum obatmu dan tidurlah. Biar aku yang membantu mencari Melda”, jawab Reina tenang.
“oh Rei, kenapa kau selalu begitu baik. Selalu membantuku ketika anakku pergi tanpa kabar. Lalu bagaimana dengan urusanmu?”
“aku sedang tidak ada urusan apapun”.
Akhirnya empat buah tablet berwarna putih dan merah itu masuk kedalam tenggorokkan Robby. Hingga Robby terlelap di kasurnya Reina masih setia menungguinya.
***
Melda terbangun dari tidur lelah yang menyandarkan tubuhnya ke drum besar yang sudah berkarat. Tenggorokkannya terasa begitu kering, belum setetes airpun melewati tenggorokkannya sejak siang tadi.
Terdengar langkah kaki yang terburu-buru melewati gudang. Seketika Melda merapatkan telinganya pada dinding gudang. Itu pasti seseorang yang mungkin saja dapat membantunya keluar dari situ. Namun belum sempat berteriak meminta tolong, Melda tersentak dan kembali megulum perkataannya.
“dimana gadis itu di sekap?”, tanya salah satu pria diluar dengan suara sangar.
“entahlah. Kupikir tak perlu terburu-buru untuk menghabisinya. Kita masih punya banyak waktu, kita bisa mempersiapan peralatannya dengan lengkap dan itu akan memudahkan kita untuk menghilangkan jejak”, jelas pria lainnya
“aku sudah menebak kau akan mengatakan hal itu. Baiklah kali ini aku akan mendengarkan usulmu”. Setelah itu terdengar langkah kedua pria itu semakin menjauh dari gudang.
“apakah gadis yang mereka maksud adalah aku”, Melda tersungkur lemas, kaki dan tangannya gemetaran. Pandangan gadis berambut ikal itu mulai kosong. Nafas kepasrahan begitu terasa.
***
“Reina!!!” teriak Robby bagai petir yang mengagetkan semua penghuni rumah mewah itu.
“kemana kalian semua. Dimana Meldaku. Aku bisa gila!!!”, Robby semakin galau. Efek samping obat yang diminumnya membuat tubuhnya begitu kuat untuk beberapa jam.
BERSAMBUNG....
Oleh Winni Siti Alawiah
“Tolong….tolong….tolong”, teriak Melda dari dalam gudang bekas penyimpanan tabung gas.
Sudah dua jam berlalu dan tak satu pun orang yang datang ke gudang itu. Mungkin karena letak gudang yang jauh dari rumah warga. Terkunci dalam ruangan yang begitu besar, pengap, dan gelap membuat jantung gadis berusia 17 tahun itu berdetak kencang. Matanya yang selalu berjaga kesetiap sudut di ruangan itu. Pengawasan yang dibuatnya memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya.
Handphonenya mati tak bisa dipakai untuk mengubungi siapapun yang bisa menolongnya keluar dari tempat menyeramkan itu.
“ya Tuhan, tolong aku. Aku ingin pulang”, nada suaranya mulai paraw. Entah siapa yang menyeretnya kedalam mobil jip berwarna biru tua ketika ia keluar dari gerbang sekolah.
Keadaan berbeda, di sebuah ruangan berarsitektur eropa modern, tergolek lemas di atas sofa seorang pria berkumis tebal.
“dimana dia sekarang, aku tidak akan makan bahkan minum obat tanpanya di sampingku!”, teriak pria berkumis itu pada pria berjas coklat yang berdiri disampingnya.
“kami sudah menghubungi semua kawan-kawannya di sekolahnya tetapi tidak ada yang mengetahui kemana Nona Muda pergi”, jelas pria berjas itu dengan hati-hati.
“sesulit itukah kalian mencari gadis kecilku!. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, cepat pergi dan cari anakku!. Jangan kembali sebelum kau bertemu dengannya!”, perintahnya tegas.
Segera dengan cepat pria berjas itu meninggalkan ruangan besar berwarna emas. Dengan langkah cepat pria itu menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan mobil.
“David!!!,”
“kau memanggilku?”, langkahnya terhenti. David membalikan badan ke arah suara yang memanggilnya.
“ia. Bagaimana keadaan Melda dan Robby?”, tanya wanita tinggi berkulit putih itu.
“entahlah Nyonya. Seperti biasa Tuan tidak pernah mengharapkan keadaan buruk menimpa Nona Muda”
“Keras kepala!!!”
Segera wanita itu melangkahkan kakinya cepat namun tetap anggun. Wanita itu tante Reina yang setia membantu Robby ayahnya dalam membesarkan Melda semenjak ibunya meninggalkannya karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.
“hei, pria batu!!! Lagi-lagi kau ingin menyiksa dirimu sendiri!”
“hah, sudahlah Rei. Aku tahu apa yang aku lakukan. Terimakasih atas perhatianmu. Tapi tolong mengertilah”
“benar-benar kepala batu!. Kau pernah melakukan ini berulang kali setiap anakmu pergi tanpa kabar. Padahal anak itu hanya pergi dengan temannya. Kau akan mati jika setiap Melda pergi terlalu lama dan kau memutuskan tidak meminum obatmu!.”, jelas Reina kesal.
Reina duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan tempat Robby berbaring lemas. Dengan setelan baju tidur berwarna merah ati Robby terlihat begitu mengkhawatirkan.
“lihat dirimu. Sebentar lagi kau akan mati dengan keputusan bodohmu itu!!!”
“tolonglah Rei, jangan paksa aku. Kali ini firasatku berbeda. Melda berjanji akan pergi ke pantai denganku sepulang sekolah. Tapi lihat dia tidak pulang. Sudah lima jam Rei, lima jam!!!”, Robby terengah-engah.
“pikiranmu masih kolot. Ini zaman modern Robby!!! Anakmu pergi dan pulang dengan kawalan, apa harus ia pergi bermain dengan teman-temannya dan membawa orang-orang berjas biru yang selalu berjaga di sekelilingnya.”
“baiklah Rei, aku mengalah. Aku harus bagaimana sekarang?”, tanya Robby yang berusaha mengangkat tubuhnya yang lemah dari sofa.
“ minum obatmu dan tidurlah. Biar aku yang membantu mencari Melda”, jawab Reina tenang.
“oh Rei, kenapa kau selalu begitu baik. Selalu membantuku ketika anakku pergi tanpa kabar. Lalu bagaimana dengan urusanmu?”
“aku sedang tidak ada urusan apapun”.
Akhirnya empat buah tablet berwarna putih dan merah itu masuk kedalam tenggorokkan Robby. Hingga Robby terlelap di kasurnya Reina masih setia menungguinya.
***
Melda terbangun dari tidur lelah yang menyandarkan tubuhnya ke drum besar yang sudah berkarat. Tenggorokkannya terasa begitu kering, belum setetes airpun melewati tenggorokkannya sejak siang tadi.
Terdengar langkah kaki yang terburu-buru melewati gudang. Seketika Melda merapatkan telinganya pada dinding gudang. Itu pasti seseorang yang mungkin saja dapat membantunya keluar dari situ. Namun belum sempat berteriak meminta tolong, Melda tersentak dan kembali megulum perkataannya.
“dimana gadis itu di sekap?”, tanya salah satu pria diluar dengan suara sangar.
“entahlah. Kupikir tak perlu terburu-buru untuk menghabisinya. Kita masih punya banyak waktu, kita bisa mempersiapan peralatannya dengan lengkap dan itu akan memudahkan kita untuk menghilangkan jejak”, jelas pria lainnya
“aku sudah menebak kau akan mengatakan hal itu. Baiklah kali ini aku akan mendengarkan usulmu”. Setelah itu terdengar langkah kedua pria itu semakin menjauh dari gudang.
“apakah gadis yang mereka maksud adalah aku”, Melda tersungkur lemas, kaki dan tangannya gemetaran. Pandangan gadis berambut ikal itu mulai kosong. Nafas kepasrahan begitu terasa.
***
“Reina!!!” teriak Robby bagai petir yang mengagetkan semua penghuni rumah mewah itu.
“kemana kalian semua. Dimana Meldaku. Aku bisa gila!!!”, Robby semakin galau. Efek samping obat yang diminumnya membuat tubuhnya begitu kuat untuk beberapa jam.
BERSAMBUNG....
Langganan:
Postingan (Atom)










