DORMITORI
Oleh Winni Siti Alawiah
“Tolong….tolong….tolong”, teriak Melda dari dalam gudang bekas penyimpanan tabung gas.
Sudah dua jam berlalu dan tak satu pun orang yang datang ke gudang itu. Mungkin karena letak gudang yang jauh dari rumah warga. Terkunci dalam ruangan yang begitu besar, pengap, dan gelap membuat jantung gadis berusia 17 tahun itu berdetak kencang. Matanya yang selalu berjaga kesetiap sudut di ruangan itu. Pengawasan yang dibuatnya memberikan sedikit ketenangan bagi dirinya.
Handphonenya mati tak bisa dipakai untuk mengubungi siapapun yang bisa menolongnya keluar dari tempat menyeramkan itu.
“ya Tuhan, tolong aku. Aku ingin pulang”, nada suaranya mulai paraw. Entah siapa yang menyeretnya kedalam mobil jip berwarna biru tua ketika ia keluar dari gerbang sekolah.
Keadaan berbeda, di sebuah ruangan berarsitektur eropa modern, tergolek lemas di atas sofa seorang pria berkumis tebal.
“dimana dia sekarang, aku tidak akan makan bahkan minum obat tanpanya di sampingku!”, teriak pria berkumis itu pada pria berjas coklat yang berdiri disampingnya.
“kami sudah menghubungi semua kawan-kawannya di sekolahnya tetapi tidak ada yang mengetahui kemana Nona Muda pergi”, jelas pria berjas itu dengan hati-hati.
“sesulit itukah kalian mencari gadis kecilku!. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, cepat pergi dan cari anakku!. Jangan kembali sebelum kau bertemu dengannya!”, perintahnya tegas.
Segera dengan cepat pria berjas itu meninggalkan ruangan besar berwarna emas. Dengan langkah cepat pria itu menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan mobil.
“David!!!,”
“kau memanggilku?”, langkahnya terhenti. David membalikan badan ke arah suara yang memanggilnya.
“ia. Bagaimana keadaan Melda dan Robby?”, tanya wanita tinggi berkulit putih itu.
“entahlah Nyonya. Seperti biasa Tuan tidak pernah mengharapkan keadaan buruk menimpa Nona Muda”
“Keras kepala!!!”
Segera wanita itu melangkahkan kakinya cepat namun tetap anggun. Wanita itu tante Reina yang setia membantu Robby ayahnya dalam membesarkan Melda semenjak ibunya meninggalkannya karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.
“hei, pria batu!!! Lagi-lagi kau ingin menyiksa dirimu sendiri!”
“hah, sudahlah Rei. Aku tahu apa yang aku lakukan. Terimakasih atas perhatianmu. Tapi tolong mengertilah”
“benar-benar kepala batu!. Kau pernah melakukan ini berulang kali setiap anakmu pergi tanpa kabar. Padahal anak itu hanya pergi dengan temannya. Kau akan mati jika setiap Melda pergi terlalu lama dan kau memutuskan tidak meminum obatmu!.”, jelas Reina kesal.
Reina duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan tempat Robby berbaring lemas. Dengan setelan baju tidur berwarna merah ati Robby terlihat begitu mengkhawatirkan.
“lihat dirimu. Sebentar lagi kau akan mati dengan keputusan bodohmu itu!!!”
“tolonglah Rei, jangan paksa aku. Kali ini firasatku berbeda. Melda berjanji akan pergi ke pantai denganku sepulang sekolah. Tapi lihat dia tidak pulang. Sudah lima jam Rei, lima jam!!!”, Robby terengah-engah.
“pikiranmu masih kolot. Ini zaman modern Robby!!! Anakmu pergi dan pulang dengan kawalan, apa harus ia pergi bermain dengan teman-temannya dan membawa orang-orang berjas biru yang selalu berjaga di sekelilingnya.”
“baiklah Rei, aku mengalah. Aku harus bagaimana sekarang?”, tanya Robby yang berusaha mengangkat tubuhnya yang lemah dari sofa.
“ minum obatmu dan tidurlah. Biar aku yang membantu mencari Melda”, jawab Reina tenang.
“oh Rei, kenapa kau selalu begitu baik. Selalu membantuku ketika anakku pergi tanpa kabar. Lalu bagaimana dengan urusanmu?”
“aku sedang tidak ada urusan apapun”.
Akhirnya empat buah tablet berwarna putih dan merah itu masuk kedalam tenggorokkan Robby. Hingga Robby terlelap di kasurnya Reina masih setia menungguinya.
***
Melda terbangun dari tidur lelah yang menyandarkan tubuhnya ke drum besar yang sudah berkarat. Tenggorokkannya terasa begitu kering, belum setetes airpun melewati tenggorokkannya sejak siang tadi.
Terdengar langkah kaki yang terburu-buru melewati gudang. Seketika Melda merapatkan telinganya pada dinding gudang. Itu pasti seseorang yang mungkin saja dapat membantunya keluar dari situ. Namun belum sempat berteriak meminta tolong, Melda tersentak dan kembali megulum perkataannya.
“dimana gadis itu di sekap?”, tanya salah satu pria diluar dengan suara sangar.
“entahlah. Kupikir tak perlu terburu-buru untuk menghabisinya. Kita masih punya banyak waktu, kita bisa mempersiapan peralatannya dengan lengkap dan itu akan memudahkan kita untuk menghilangkan jejak”, jelas pria lainnya
“aku sudah menebak kau akan mengatakan hal itu. Baiklah kali ini aku akan mendengarkan usulmu”. Setelah itu terdengar langkah kedua pria itu semakin menjauh dari gudang.
“apakah gadis yang mereka maksud adalah aku”, Melda tersungkur lemas, kaki dan tangannya gemetaran. Pandangan gadis berambut ikal itu mulai kosong. Nafas kepasrahan begitu terasa.
***
“Reina!!!” teriak Robby bagai petir yang mengagetkan semua penghuni rumah mewah itu.
“kemana kalian semua. Dimana Meldaku. Aku bisa gila!!!”, Robby semakin galau. Efek samping obat yang diminumnya membuat tubuhnya begitu kuat untuk beberapa jam.
BERSAMBUNG....
mulailah mencintai negri kita dengan karya sastranya ^_^
aku anak indonesia,
cinta negeri dan menghargai
karya sastra indonesia...
HIDUP INDONESIA!!!!!
cinta negeri dan menghargai
karya sastra indonesia...
HIDUP INDONESIA!!!!!
Minggu, 06 November 2011
Selasa, 27 September 2011
cerbung..... (star from today)
Dari kejauhan tubuh kecil dengan senyum jail itu memanggil-manggil. "Ren...Reno...". setengah berlari tubuhnya terlihat seperti anak SMA yang mengejar guru untuk perbaikan nilai (hehe).
"wes, tumben dateng pagi"
"huh, kasih selamat ke aku berhasil berangkat pagi. nih baca dong majalah FressTeen hari ini!", dengan semangat45'nya Alwi menyodorkan majalah ditanganya.
"apaan sih?". Reno penasaran dengan isi majalah remaja yang sedang in di kalangan remaja itu. di bukanya tiap lembar halaman dengan hati-hati.
"wah seru nih, ada kompetisi basket...."
"ikh..sini-sini. yang harus kamu baca tuh ini!", cela Alwi cepat, di tunjukkannya halaman yang memuat cerita pendek yang berjudul agak aneh.
"ah apaan sih, aku ga suka baca cerpen. ababil (ABG labil) banget".
"eh liat dulu dong siapa pengarangnya"
"Ragilia Alwina...hahaha. ga percaya..ga mungkin hahaa"
"ikh ko malah ketawa sih....", Alwi mulai kesal dengan respon Reno si cowo jahil itu.
bersambung dulu akh....
"wes, tumben dateng pagi"
"huh, kasih selamat ke aku berhasil berangkat pagi. nih baca dong majalah FressTeen hari ini!", dengan semangat45'nya Alwi menyodorkan majalah ditanganya.
"apaan sih?". Reno penasaran dengan isi majalah remaja yang sedang in di kalangan remaja itu. di bukanya tiap lembar halaman dengan hati-hati.
"wah seru nih, ada kompetisi basket...."
"ikh..sini-sini. yang harus kamu baca tuh ini!", cela Alwi cepat, di tunjukkannya halaman yang memuat cerita pendek yang berjudul agak aneh.
"ah apaan sih, aku ga suka baca cerpen. ababil (ABG labil) banget".
"eh liat dulu dong siapa pengarangnya"
"Ragilia Alwina...hahaha. ga percaya..ga mungkin hahaa"
"ikh ko malah ketawa sih....", Alwi mulai kesal dengan respon Reno si cowo jahil itu.
bersambung dulu akh....
Selasa, 19 Juli 2011
Hasil Belajar, Mencoba, Berusaha, dan Berdoa...
Kamis, 14 Juli 2011
Ayo2.. INFO lomba....^^
Winni S Alawiah
Kompetisi menulis Tingkat Mahasiswa Se- Jawa Barat
Bung dan sarinah, Kemerdekaan merupakan suatu jembatan emas yang akan menghantarkan bangsa Indonesia pada cita-cita masyarakat yang madani dan sejahtera. Enam puluh enam tahun sudah bangsa ini merdeka, tetapi kita belum mampu merealisasikan cita-cita luhur para pendiri bangsa ini, konsep negara sejahtera yang dibangun seakan masih jauh dari pelupuk mata. Krisis multidimensi hingga sampai pada ketidakterjaminan kelayakan hidup dari tiap masyarakat Indonesia masih setia membelenggu bangsa ini. Harapan demi harapan selalu dipaparkan namun bangsa ini seakan telah meragukan sebuah pengharapan bagi negara yang makmur dan sejahtera.
Dalam menyambut Hari Kemerdekaan Nasional ke-66 tahun, dengan didasarkan pada kegelisahan akan kondisi negara dan bangsa Indonesia yang masih jauh dari makna kemerdekaan yang diharapkan oleh para founding father kita, GmnI Cabang Sumedang beserta Harian Pikiran Rakyat dan Komunitas Pena Padjajaran akan menyelenggarakan Lomba Menulis Se-Jawa Barat dikhususkan bagi mahasiswa yang diharapkan lebih paham dan peka akan persoalan bangsa dan mampu memberikan gagasan dan ide briliant-nya untuk menanggapi kondisi bangsa dewasa ini.
Berikut ini mengenai ketentuan-ketentuan lomba :
TEMA
" Refleksi 66 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia "
Sub Tema :
a. Sosial
b. Politik
c. Budaya
d. Ekonomi
e. Pertahanan dan Keamanan
f. Pendidikan
g. Hukum
TUJUAN
1. Memberi kesempatan bagi mahasiswa se-jawa barat untuk menuangkan ide dan gagasannya.
2. Meningkatkan kemampuan menulis di kalangan mahasiswa.
3. Menciptakan atmosfer intelektualitas di kalangan mahasiswa.
SYARAT PESERTA
1. Mahasiswa D3 dan S1 dari Perguruan Tinggi di Jawa Barat
2. Peserta wajib melampirkan scan Kartu Tanda Mahasiswa.
ATURAN PENULISAN
1. Artikel harus merupakan gagasan atau karya original peserta dan belum pernah dipublikasikan di media massa atau lomba manapun.
2. Format penulisan artikel :
a. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD
b. Ukuran kertas A4
c. Tulisan maksimal 5000 karakter
d. Jenis Huruf : Times New Roman
e. Ukuran Font : 12
f. Spasi 1,5
3. Seluruh artikel yang telah didaftarkan dalam lomba ini menjadi hak milik panitia sepenuhnya dengan nama penulis aslinya.
Penyerahan Artikel dan Biodata
1. Artikel berupa soft copy dikirimkan via e-mail ke alamat : pena_padjadjaran@yahoo.com, dengan subjek : Lomba Menulis Se-Jawa Barat.
2. Penyerahan artikel disertai biodata, nomor handphone, nomor rekening, scan Kartu Tanda Mahasiswa dan scan Foto 4x6.
3. Setiap peserta hanya diperkenankan menyerahkan satu buah tulisan.
4. Penyerahan artikel dimulai tanggal 1 Juli dan batas akhir pengiriman tanggal 10 Agustus pukul 24.00 WIB.
5. Pengumuman pemenang akan diumumkan melalui blog (lombamenulisartikelsejabar.blogspot.com), Harian Pikiran Rakyat, serta via telepon.
6. Penyerahan hadiah akan dikirimkan langsung pada pemenang.
Penghargaan/ Apresiasi
1. Juara 1: Uang Rp 1.000.000 dan sertifikat
2. Juara 2: Uang Rp 750.000 dan sertifikat
3. Juara 3: Uang Rp 500.000 dan sertifikat
4. Jika memenuhi kriteria tertentu, khusus juara 1 tulisannya akan dimuat dalam rubrik kampus Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat.
Pengumuman pemenang akan dimuat terlebih dahulu di blog tanggal 18 Agustus dan untuk tulisan pemenang akan dimuat di media cetak.
KITA TUNGGU GAGASAN ANDA !!!
MERDEKA !!!
CP : 022-92255620/085860350160 (Indri)
08986102458 (Nanda)
Kompetisi menulis Tingkat Mahasiswa Se- Jawa Barat
Bung dan sarinah, Kemerdekaan merupakan suatu jembatan emas yang akan menghantarkan bangsa Indonesia pada cita-cita masyarakat yang madani dan sejahtera. Enam puluh enam tahun sudah bangsa ini merdeka, tetapi kita belum mampu merealisasikan cita-cita luhur para pendiri bangsa ini, konsep negara sejahtera yang dibangun seakan masih jauh dari pelupuk mata. Krisis multidimensi hingga sampai pada ketidakterjaminan kelayakan hidup dari tiap masyarakat Indonesia masih setia membelenggu bangsa ini. Harapan demi harapan selalu dipaparkan namun bangsa ini seakan telah meragukan sebuah pengharapan bagi negara yang makmur dan sejahtera.
Dalam menyambut Hari Kemerdekaan Nasional ke-66 tahun, dengan didasarkan pada kegelisahan akan kondisi negara dan bangsa Indonesia yang masih jauh dari makna kemerdekaan yang diharapkan oleh para founding father kita, GmnI Cabang Sumedang beserta Harian Pikiran Rakyat dan Komunitas Pena Padjajaran akan menyelenggarakan Lomba Menulis Se-Jawa Barat dikhususkan bagi mahasiswa yang diharapkan lebih paham dan peka akan persoalan bangsa dan mampu memberikan gagasan dan ide briliant-nya untuk menanggapi kondisi bangsa dewasa ini.
Berikut ini mengenai ketentuan-ketentuan lomba :
TEMA
" Refleksi 66 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia "
Sub Tema :
a. Sosial
b. Politik
c. Budaya
d. Ekonomi
e. Pertahanan dan Keamanan
f. Pendidikan
g. Hukum
TUJUAN
1. Memberi kesempatan bagi mahasiswa se-jawa barat untuk menuangkan ide dan gagasannya.
2. Meningkatkan kemampuan menulis di kalangan mahasiswa.
3. Menciptakan atmosfer intelektualitas di kalangan mahasiswa.
SYARAT PESERTA
1. Mahasiswa D3 dan S1 dari Perguruan Tinggi di Jawa Barat
2. Peserta wajib melampirkan scan Kartu Tanda Mahasiswa.
ATURAN PENULISAN
1. Artikel harus merupakan gagasan atau karya original peserta dan belum pernah dipublikasikan di media massa atau lomba manapun.
2. Format penulisan artikel :
a. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD
b. Ukuran kertas A4
c. Tulisan maksimal 5000 karakter
d. Jenis Huruf : Times New Roman
e. Ukuran Font : 12
f. Spasi 1,5
3. Seluruh artikel yang telah didaftarkan dalam lomba ini menjadi hak milik panitia sepenuhnya dengan nama penulis aslinya.
Penyerahan Artikel dan Biodata
1. Artikel berupa soft copy dikirimkan via e-mail ke alamat : pena_padjadjaran@yahoo.com, dengan subjek : Lomba Menulis Se-Jawa Barat.
2. Penyerahan artikel disertai biodata, nomor handphone, nomor rekening, scan Kartu Tanda Mahasiswa dan scan Foto 4x6.
3. Setiap peserta hanya diperkenankan menyerahkan satu buah tulisan.
4. Penyerahan artikel dimulai tanggal 1 Juli dan batas akhir pengiriman tanggal 10 Agustus pukul 24.00 WIB.
5. Pengumuman pemenang akan diumumkan melalui blog (lombamenulisartikelsejabar.blogspot.com), Harian Pikiran Rakyat, serta via telepon.
6. Penyerahan hadiah akan dikirimkan langsung pada pemenang.
Penghargaan/ Apresiasi
1. Juara 1: Uang Rp 1.000.000 dan sertifikat
2. Juara 2: Uang Rp 750.000 dan sertifikat
3. Juara 3: Uang Rp 500.000 dan sertifikat
4. Jika memenuhi kriteria tertentu, khusus juara 1 tulisannya akan dimuat dalam rubrik kampus Harian Pikiran Rakyat Jawa Barat.
Pengumuman pemenang akan dimuat terlebih dahulu di blog tanggal 18 Agustus dan untuk tulisan pemenang akan dimuat di media cetak.
KITA TUNGGU GAGASAN ANDA !!!
MERDEKA !!!
CP : 022-92255620/085860350160 (Indri)
08986102458 (Nanda)
Rabu, 06 Juli 2011
Minggu, 12 Juni 2011
ye..cerpennya dimuat lagi... ^^
CARPON
Loba Piliheun
Ku Winni Siti Alawiah
Asa teu nyana ceuk si Merliana mah. Tetempoan teh asa hehereyan. “naha bener ieu teh?, naha enya maranehna teh?”. Poe harita Ana sebutan si Merliana ti isuk keneh neupika beurangna pagaweana ngan ukur hulang huleng di buruan imahna.
Genep jam teh siga nu saukur genep menit karasa ku Ana mah. Tirisna angin isuk ge karasa haneut. Beurang nu sakitu panasna asa isuk keneh karasa ku Ana. Kabeh nu ditempona sangkan endah tur merenah. Bener sangkan aya papatah ‘mun keur jatuh cinta mah kabeh karasa endah’.
Dewi portuna sigana keur nuturkeun Ana. Eweh deui nu pang bahagiana ayeuna iwal ti Ana alias Merliana Soebagyo. Gadis nu geus nganjak dewasa ieu geus menangkeun jodohna. Ngan hanjakalna jodohna teh lain ngan sauukur hiji lalaki tapi tilu lalaki sakaligus. Tilu lalaki eta nyaeta Rudi babaturan keur SMA na, Radit babaturan sakelasna di kampus ayeuna, Pak Encep nyaeta dosen nu dipikabogohna tiawal asup kuliah.
Bet teu disangka-sangka, jodoh teh asa siga duren runtuh cek basana mah. Meuni skaligus tilu lalaki nu bogoh tur ngajak kawin ka manehna. Puguh ge lain lieur deui nu dirasa Ana gadis jangkung leutik ieu sangkan matak keder sorangan. Eta tilu lalaki teh, kabehna pernah dipikabogoh ku Ana. Mun dititah milih moal mungkin bisa milih salah sahiji, kahayangna mah mun bisa rek tiluanana di pilih ku Ana jadi salakina. Tapi da asal moal mungkin ari kitu mah.
Ti isuk mula lamunan Ana manjang neupika lohor nakeun. Tiap menit asa ngolebat bayangan raray tilu lalaki eta. Ari dipikir keur masa depan mah asa berat ka Pak Encep nu geus puguh gawena jadi dosen. Tapi da ari cinta pertama mah emang paling hese lengitna, cinta pertama Ana nyaeta ka Rudi. Muhammad Rudi Syahputra, lalaki nu jadi kabogohna ti SMA kelas dua semester dua. Rudi anak ka tilu ti tilu bersaudara, tingkal laku jeung sopan santuna nu napel pisan dina ingetan Ana. Kumaha Rudi nu sakitu bager tur sopana ka awewe. Mun nginget-nginget baheula asa kasuat-suat kenangan endah jeung Rudi. Hiji deui Raditya atau Radit, babaturan sakelasna nu saling bogoh ti awal asup kuliah. Ngan sama-sama era ngungkapkeunana nepi ka karek ayeuna Radit wani ngungkapkeun perasaana ka Ana.
Leuwih lila ditimbang jeung dipikir, leuwih rieut Ana milih nentukeun mana nu rek ditarima ku manehna. Sangkan ngadangu adzan lohor, Ana ganjang indit kacai wudhu tuluy solat. Saenggeus solat, Ana munajatkeun do’a ka Gusti nu Agng sangkan dibere jalan kaluar keur nentukeun pilihan ker hirupna engke.
Teu lila, hape ana hurung aya dua sms asup. Dibuka eta sms teh, duanana dikirim ti Radit. Eusi smsna nu hiji eusina puisi jieunan Radit, sms kadua eusina nanyakeun deui jawaban Ana. Anu paling dipikaresep ku Ana ti Radit nyaeta puisi-puisi manehna nu unik jeung jujur kata-katana. Aya hiji puisi nu teu dipikanyaho ku Radit sangkan eta puisi disimpen ku Ana.
Alam Merah Jambu
Banyak tatapan enggan terpejam
Berteman lebabnya sulaman malam
Begitu merdu seribu kalbu
Berangan dari keinginan terpendam
Semakin larut seraya lanjut
Lantur sana-sini
Luap satu-satu, luruhkan kata-kata
Luangkan rasa-rasa
Suasana hati suntingan jiwa
Aku tersudut
Akalku terbungkam
Semakin terbuka kisah batin,
Semakin tercurah kasih sayang
Sematkan pada angin
Sebarkan pada langit
Angkasa raya tersipu, awan mata tersapu
Lalu memerdekakan jiwaku yang terjajah asmara
Teu puguh rarasaan mun maca eta puisi ngan ukus sakilas oge rasana diri Ana bungahna teu kaukur. Ti leutik Ana resep pisan kanungarana puisi, geus teu kaitung lomba-omba baca atawa nulis puisi nu dipiliuanana. Kitu oge jeung Rudi, nu nyatakeun cintana make puisi cinta nu matak luluhkeun hate Ana neupiken ka bogoh pisan ka manehna. Komo deui ka Radit mah, Radit geus kasohor ku puisi-puisi unikna di kampus.
Dibukana sms kadua nu eusina puisi ti Radit teh. Samemeh maca ge hate Ana geus teu puguh rarasaan, dag dig dug. Les kabeh pikiran kabeh pinuh ku bayangan tentang Radit, mulai ti seurina Radit, sora na nu lantang di kelas, matana pas ningali Ana neupika cara jalana Radit nu siga nyata nyamperkeun Ana nu keur diuk ngahuleng di korsi.
Kepada Merliana Soebagyo
Sepasang lesung luruh melayang, menjadi lanskap sesosok wajah hingga kala senja yang serupa lepas senyum tatap meluncur.
“subhanallah……..”, Ana ngan bisa istigfar. Ana teu nyangka lamun Radit sok merhatikeun manehna mun keur seuri di kelas. Neupika kempot dina pipi kaler jeung katuhuna diperhatikeun. Migkin bogoh asana Ana ka Radit komo sanggeus maca eta puisi.
Ana teu bisa kitu wae mutuskeun milih Rudi, Radit atawa Pak Encep sorangan. Mun menta saran ka kolotna mah pasti ngijinan jeung satujuna ka Pak Encep. Alesana mah Pak Encep the geus mapan, dewasa bisa ngabingbing jadi kapala rumah tangga, pangpangna mah bisa nyumponan biaya hirup engke geus kawin. Ditambah Ana ge bogoh ka Pak Encep siga Ana bogoh ka Radit, rasana sarua kadarna.
Hape Ana hurung deui, aya sms ti Rudi. Gancang dibuka tuluy dibaca ku Ana meuni ati-ati. Eusina nyaeta ngabejaan ka Ana sangkan Rudi geus katarima gawe di Pemkot (pemerintah kota) Sukabumi di bagian humana tapi inti smsna mah nyaeta rencana Rudi jeung keluargana nu rek datang ngalamar isukan. Langsung ngagebek Ana harita oge sanggeus maca sms ti Rudi.
Leles, teu puguh rarasaan, curuluk cimata ngabasehan pipina nu kempot. Sakedeung Ana hulang huleng bari nyekelan dadana nu deg-degan. Jalan hirupna asa tepararuguh. Dihiji sisi Ana teu bisa nolak Rudi, tapi di sisi lain manehna ngarep pisan ka Radit jeung beurat pisan ka Pak Encep nu direstuan pisan ku kolotna.
Cimatana teu root, ngucur minkinan teu ka kontrol. “ Duh Gusti….. sing di bengraskeun, sing dibuka jalan nu jelas, saha jodoh nu diridhoan ku Gusti”, Do’a Ana jero hatena. Naha ieu cinta teh meni sarua kadarna, eweh nu condong atawa berat ka salah sahiji. Asa teu mungkin mun Ana narima tiluanana jadi salakina. Kitu oge jeung Rudi, Radit atawa Pak Encep nu moal mungkin narima Ana jadi pamajikanana nu poligami.
“Na…Ana…”, kadangu sora indungna ngageroan ti luar kamar.
“kah bu…”, tembal Ana ti jero kamar.
Indungna nyamperkeun kajero kamar, gek diuk indungna dina kasur gigireun Ana nu keur mupus cimatana.
“Neng Ana putri Ibu nu soleh, ibu bungah kacida Tadi siang Encep nyamperkeun Bapak sareng Ibu di kantor. Encep bade ngalamar Eneng enjing sareng keluargana”. Ibuna nagkeup Ana
“jodohmah moal kaman neng, buktina Encep nu dipikabogoh ku eneng teh nyamperkeun ngalamar eneng. Ibu nyatujuan pisan sareng bapak lamun eneng jadi sareng Encepna”.
***
Isukan nu dipikasieun ku Ana kajadian. Tilu mobil datang babarengan parker hareupen imah Ana. Kijang bodas Pak Encep parkir pang harepna, tuluy baleno bereum Radit nu disusul ku xenia anyar boga Rudi. Tiluanana turun babareungan, Pak Encep, Rudi jeung Radit datang jeung keluargana.
Leles asana teh sakabeh badan Ana. Bingung kudu kumaha ngahadapan tilu lalaki dihareupenana nu boga maksud nu sarua nyaeta ngalamar Ana. Ana geus teu puguh rarasaan, manehna ngabalieur kajero imah lumpat ka kamarna. Saking gancangna lumpat, blug Ana labuh.
Bray beunta panon Ana, ditempona sakuliling tuluy nyengir sorangan. Gurubug datang indungna asup gura giru ka kamarna.
“aya naon Neng, ibu meuni reuwas. Ngadangu sora nu labuh”, tanya indungna reuwaseun
“he… teu aya nanaon ibu, Ana gebis ti kasur”, tembalna bari nyengir
“eh Gusti ari Eneng, aya-aya wae. Ngimpen nyah?”, tanya ibuna
“em…..muhun bu…”, tembal Ana bari luk tungkul era
Celeukeuteuk seuri Ibuna bari ngusap rambut Ana. Teu kuat ningali ibuna seuri Ana ge ngilu seuri bari nyaritakeun ngimpina soal jodohna nu satilu-tilu sakaligus.
Loba Piliheun
Ku Winni Siti Alawiah
Asa teu nyana ceuk si Merliana mah. Tetempoan teh asa hehereyan. “naha bener ieu teh?, naha enya maranehna teh?”. Poe harita Ana sebutan si Merliana ti isuk keneh neupika beurangna pagaweana ngan ukur hulang huleng di buruan imahna.
Genep jam teh siga nu saukur genep menit karasa ku Ana mah. Tirisna angin isuk ge karasa haneut. Beurang nu sakitu panasna asa isuk keneh karasa ku Ana. Kabeh nu ditempona sangkan endah tur merenah. Bener sangkan aya papatah ‘mun keur jatuh cinta mah kabeh karasa endah’.
Dewi portuna sigana keur nuturkeun Ana. Eweh deui nu pang bahagiana ayeuna iwal ti Ana alias Merliana Soebagyo. Gadis nu geus nganjak dewasa ieu geus menangkeun jodohna. Ngan hanjakalna jodohna teh lain ngan sauukur hiji lalaki tapi tilu lalaki sakaligus. Tilu lalaki eta nyaeta Rudi babaturan keur SMA na, Radit babaturan sakelasna di kampus ayeuna, Pak Encep nyaeta dosen nu dipikabogohna tiawal asup kuliah.
Bet teu disangka-sangka, jodoh teh asa siga duren runtuh cek basana mah. Meuni skaligus tilu lalaki nu bogoh tur ngajak kawin ka manehna. Puguh ge lain lieur deui nu dirasa Ana gadis jangkung leutik ieu sangkan matak keder sorangan. Eta tilu lalaki teh, kabehna pernah dipikabogoh ku Ana. Mun dititah milih moal mungkin bisa milih salah sahiji, kahayangna mah mun bisa rek tiluanana di pilih ku Ana jadi salakina. Tapi da asal moal mungkin ari kitu mah.
Ti isuk mula lamunan Ana manjang neupika lohor nakeun. Tiap menit asa ngolebat bayangan raray tilu lalaki eta. Ari dipikir keur masa depan mah asa berat ka Pak Encep nu geus puguh gawena jadi dosen. Tapi da ari cinta pertama mah emang paling hese lengitna, cinta pertama Ana nyaeta ka Rudi. Muhammad Rudi Syahputra, lalaki nu jadi kabogohna ti SMA kelas dua semester dua. Rudi anak ka tilu ti tilu bersaudara, tingkal laku jeung sopan santuna nu napel pisan dina ingetan Ana. Kumaha Rudi nu sakitu bager tur sopana ka awewe. Mun nginget-nginget baheula asa kasuat-suat kenangan endah jeung Rudi. Hiji deui Raditya atau Radit, babaturan sakelasna nu saling bogoh ti awal asup kuliah. Ngan sama-sama era ngungkapkeunana nepi ka karek ayeuna Radit wani ngungkapkeun perasaana ka Ana.
Leuwih lila ditimbang jeung dipikir, leuwih rieut Ana milih nentukeun mana nu rek ditarima ku manehna. Sangkan ngadangu adzan lohor, Ana ganjang indit kacai wudhu tuluy solat. Saenggeus solat, Ana munajatkeun do’a ka Gusti nu Agng sangkan dibere jalan kaluar keur nentukeun pilihan ker hirupna engke.
Teu lila, hape ana hurung aya dua sms asup. Dibuka eta sms teh, duanana dikirim ti Radit. Eusi smsna nu hiji eusina puisi jieunan Radit, sms kadua eusina nanyakeun deui jawaban Ana. Anu paling dipikaresep ku Ana ti Radit nyaeta puisi-puisi manehna nu unik jeung jujur kata-katana. Aya hiji puisi nu teu dipikanyaho ku Radit sangkan eta puisi disimpen ku Ana.
Alam Merah Jambu
Banyak tatapan enggan terpejam
Berteman lebabnya sulaman malam
Begitu merdu seribu kalbu
Berangan dari keinginan terpendam
Semakin larut seraya lanjut
Lantur sana-sini
Luap satu-satu, luruhkan kata-kata
Luangkan rasa-rasa
Suasana hati suntingan jiwa
Aku tersudut
Akalku terbungkam
Semakin terbuka kisah batin,
Semakin tercurah kasih sayang
Sematkan pada angin
Sebarkan pada langit
Angkasa raya tersipu, awan mata tersapu
Lalu memerdekakan jiwaku yang terjajah asmara
Teu puguh rarasaan mun maca eta puisi ngan ukus sakilas oge rasana diri Ana bungahna teu kaukur. Ti leutik Ana resep pisan kanungarana puisi, geus teu kaitung lomba-omba baca atawa nulis puisi nu dipiliuanana. Kitu oge jeung Rudi, nu nyatakeun cintana make puisi cinta nu matak luluhkeun hate Ana neupiken ka bogoh pisan ka manehna. Komo deui ka Radit mah, Radit geus kasohor ku puisi-puisi unikna di kampus.
Dibukana sms kadua nu eusina puisi ti Radit teh. Samemeh maca ge hate Ana geus teu puguh rarasaan, dag dig dug. Les kabeh pikiran kabeh pinuh ku bayangan tentang Radit, mulai ti seurina Radit, sora na nu lantang di kelas, matana pas ningali Ana neupika cara jalana Radit nu siga nyata nyamperkeun Ana nu keur diuk ngahuleng di korsi.
Kepada Merliana Soebagyo
Sepasang lesung luruh melayang, menjadi lanskap sesosok wajah hingga kala senja yang serupa lepas senyum tatap meluncur.
“subhanallah……..”, Ana ngan bisa istigfar. Ana teu nyangka lamun Radit sok merhatikeun manehna mun keur seuri di kelas. Neupika kempot dina pipi kaler jeung katuhuna diperhatikeun. Migkin bogoh asana Ana ka Radit komo sanggeus maca eta puisi.
Ana teu bisa kitu wae mutuskeun milih Rudi, Radit atawa Pak Encep sorangan. Mun menta saran ka kolotna mah pasti ngijinan jeung satujuna ka Pak Encep. Alesana mah Pak Encep the geus mapan, dewasa bisa ngabingbing jadi kapala rumah tangga, pangpangna mah bisa nyumponan biaya hirup engke geus kawin. Ditambah Ana ge bogoh ka Pak Encep siga Ana bogoh ka Radit, rasana sarua kadarna.
Hape Ana hurung deui, aya sms ti Rudi. Gancang dibuka tuluy dibaca ku Ana meuni ati-ati. Eusina nyaeta ngabejaan ka Ana sangkan Rudi geus katarima gawe di Pemkot (pemerintah kota) Sukabumi di bagian humana tapi inti smsna mah nyaeta rencana Rudi jeung keluargana nu rek datang ngalamar isukan. Langsung ngagebek Ana harita oge sanggeus maca sms ti Rudi.
Leles, teu puguh rarasaan, curuluk cimata ngabasehan pipina nu kempot. Sakedeung Ana hulang huleng bari nyekelan dadana nu deg-degan. Jalan hirupna asa tepararuguh. Dihiji sisi Ana teu bisa nolak Rudi, tapi di sisi lain manehna ngarep pisan ka Radit jeung beurat pisan ka Pak Encep nu direstuan pisan ku kolotna.
Cimatana teu root, ngucur minkinan teu ka kontrol. “ Duh Gusti….. sing di bengraskeun, sing dibuka jalan nu jelas, saha jodoh nu diridhoan ku Gusti”, Do’a Ana jero hatena. Naha ieu cinta teh meni sarua kadarna, eweh nu condong atawa berat ka salah sahiji. Asa teu mungkin mun Ana narima tiluanana jadi salakina. Kitu oge jeung Rudi, Radit atawa Pak Encep nu moal mungkin narima Ana jadi pamajikanana nu poligami.
“Na…Ana…”, kadangu sora indungna ngageroan ti luar kamar.
“kah bu…”, tembal Ana ti jero kamar.
Indungna nyamperkeun kajero kamar, gek diuk indungna dina kasur gigireun Ana nu keur mupus cimatana.
“Neng Ana putri Ibu nu soleh, ibu bungah kacida Tadi siang Encep nyamperkeun Bapak sareng Ibu di kantor. Encep bade ngalamar Eneng enjing sareng keluargana”. Ibuna nagkeup Ana
“jodohmah moal kaman neng, buktina Encep nu dipikabogoh ku eneng teh nyamperkeun ngalamar eneng. Ibu nyatujuan pisan sareng bapak lamun eneng jadi sareng Encepna”.
***
Isukan nu dipikasieun ku Ana kajadian. Tilu mobil datang babarengan parker hareupen imah Ana. Kijang bodas Pak Encep parkir pang harepna, tuluy baleno bereum Radit nu disusul ku xenia anyar boga Rudi. Tiluanana turun babareungan, Pak Encep, Rudi jeung Radit datang jeung keluargana.
Leles asana teh sakabeh badan Ana. Bingung kudu kumaha ngahadapan tilu lalaki dihareupenana nu boga maksud nu sarua nyaeta ngalamar Ana. Ana geus teu puguh rarasaan, manehna ngabalieur kajero imah lumpat ka kamarna. Saking gancangna lumpat, blug Ana labuh.
Bray beunta panon Ana, ditempona sakuliling tuluy nyengir sorangan. Gurubug datang indungna asup gura giru ka kamarna.
“aya naon Neng, ibu meuni reuwas. Ngadangu sora nu labuh”, tanya indungna reuwaseun
“he… teu aya nanaon ibu, Ana gebis ti kasur”, tembalna bari nyengir
“eh Gusti ari Eneng, aya-aya wae. Ngimpen nyah?”, tanya ibuna
“em…..muhun bu…”, tembal Ana bari luk tungkul era
Celeukeuteuk seuri Ibuna bari ngusap rambut Ana. Teu kuat ningali ibuna seuri Ana ge ngilu seuri bari nyaritakeun ngimpina soal jodohna nu satilu-tilu sakaligus.
Senin, 16 Mei 2011
haio haio ....
kirimkan cv n biodata anda...
yang berminat menjadi pengajar...
gogalaxy_education10@gmail.com
yang berminat menjadi pengajar...
gogalaxy_education10@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)